Pages

Thursday, May 1, 2014

Gerpolek: Gerilya, Politik, Ekonomi

Judul buku: Gerpolek
Penulis: Tan Malaka
Penerbit: Diandra Pustaka Indonesia
Terbit: Mei 2012, cetakan pertama


Dari ratusan juta penduduk Indonesia, mungkin tidak banyak yang mengetahui siapa itu Tan Malaka. Maklum, cerita kepahlawanan beliau di dalam pelajaran sejarah sempat dihapus saat zaman Orde Baru. Tan Malaka merupakan pahlawan yang berjuang demi "kemerdekaan 100%" bangsa Indonesia. Karena perjuangannya, beliau pernah mendekam dalam penjara di Madiun (1948). Namun dari dalam penjara itulah, beliau banyak menelurkan pemikiran ke dalam bentuk tulisan. Salah satu karyanya adalah buku ini, Gerpolek.

Gerpolek merupakan akronim dari Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Tan Malaka menulis dalam buku ini bahwa kegunaan Gerpolek adalah sebagai senjata Sang Gerilya untuk membela Proklamasi 17 Agustus dan mewujudkan kemerdekaan 100%. Buku Gerpolek berisi tulisan mengenai jenis-jenis perang, unsur-unsur perang, siasat perang, dan sejenisnya. Ada pula tulisan Tan Malaka tentang perang politik dan perang ekonomi. Tan Malaka juga menulis dalam buku Gerpolek mengenai kondisi Indonesia di musim "jaya berjuang" dan musim "runtuh berunding".

Dari segi bahasa, buku Gerpolek mudah dipahami karena telah disunting sesuai EYD. Namun pembaca akan menemui beberapa kata yang sengaja tidak diubah supaya gaya kepenulisan Tan Malaka tidak berubah. Dan secara keseluruhan, buku ini sudah sangat baik.

Buku ini layak dibaca oleh semua orang. Buku ini bisa menjadi referensi, inspirasi, dan motivasi dalam memperjuangkan kemerdekaan 100% bangsa Indonesia. Semoga dengan adanya buku ini, kepahlawanan Tan Malaka selalu diingat, dan pemikiran-pemikirannya selalu hidup.

Sunday, April 6, 2014

Tulisan Ngawur: Petugas Tiket Idaman

Saya sudah sering pergi ke stasiun untuk beli tiket KA. Tapi baru kali ini saya memerhatikan isi kotak saran yang ada di dekat loket. Kotak saran tersebut berukuran kecil, transparan, dan memiliki lubang. Karena transparan itulah saya bisa melihat lembaran-lembaran kertas yang dipenuhi coretan tangan manusia.

Kotak saran ini ada di Stasiun Gubeng Lama. Salah satu isi sarannya adalah: PEGAWAI TIKETNYA JANGAN HANYA RAMAH, TAPI JUGA GANTENG DAN BAIK. Saya jadi berpikir kalau orang yang menulisnya mengira itu bukan kotak saran, tapi kotak biro jodoh. Dia menulis kriteria calon jodoh idaman tapi malah dimasukkan ke kotak saran, ckck... Kalaupun PT KAI mendengar saran ini, mungkin akan sulit terealisasi. Kenapa? Karena orang-orang ganteng umumnya ada di balik layar TV, bukan di balik kaca loket.

Ada lagi yang isinya seperti ini: PEGAWAI TIKETNYA JANGAN CUMA CANTIK, TAPI JUGA GANTENG. Kalau PT KAI mengabulkan saran yang satu ini, mungkin Hudson bakal direkrut jadi pegawai tiketnya. Hudson, dengan paras setengah cantik setengah cakep, akan menimbulkan chaos di stasiun itu. Loketnya bakal antri panjang. Antrinya bukan karena beli tiket, tapi ingin foto bareng Hudson.

Selain dua saran aneh di atas, rata-rata sarannya normal. Mereka menuntut keramahan dan profesionalitas para petugas.

Tuesday, April 1, 2014

Short Trip: Silaturahim ke Malang

Tanggal 30 Maret 2014 berwarna merah. Artinya? Itu adalah hari libur! Kebetulan liburnya karena hari Minggu. Karena esoknya tidak ada kuliah (iya, pas hari raya Nyepi), saya memutuskan hari Minggu itu untuk tidak pulang ke Kediri, tetapi silaturahim ke rumah saudara yang ada di Malang.

Saya pergi ke Malang naik motor, sendirian. Mengapa sendirian? Karena lebih hemat bensin. Saya dari Surabaya hanya bawa bekal seadanya, seperti air minum, roti, dan susu kotak. Tidak lupa memakai masker (dikarenakan banyak debu dan asap di perjalanan). Saya lupa tidak pakai sarung tangan, jadinya tangan saya merah terkena panas matahari.

Saya berangkat jam 8 pagi. Sewaktu keluar dari Surabaya, arus kendaraan macet. Baru setelah keluar dari Sidoarjo, perjalanan lancar hingga Malang. Di Jalan Perusahaan, saya melewati ITN (tempat ayah saya kuliah). Saya juga mampir ke kontrakan teman (tempat saya menginap saat ikut SBMPTN), tetapi penghuninya sedang keluar semua. Dari sana, saya menuju Nasi Goreng Gandrung. Letaknya dekat kampus UIN Maulana Malik Ibrahim. Perut kenyang, hati pun senang...

Gerbang ITN

Monday, March 10, 2014

Tulisan Ngawur: Dari Psiko Hingga Lenyapnya Pesawat

Malam ini hujan dengan intensitas sedang. Sedangkan esok diprediksi akan ada T-storms alias badai ringan tambah hujan. Saya dapat prediksi tersebut dari Foreca. Tidak tahu apa itu Foreca? Cari sendiri di Google. Tidak tahu apa itu Google? Tanya temanmu saja.

Saya baru ingat kalau ada tugas Rekayasa Lalu Lintas untuk besok. Tapi saya akan meluangkan waktu sejenak untuk mengisi blog ini, sembari ditemani kurma yang manis, dan alunan "tik-tik-tik bunyi hujan." Maklum, sebagai seorang blogger, saya tergolong kurang rajin. Saya justru rajin tidur akhir-akhir ini.

Baiklah, pada kesempatan hari ini, saya akan mengutarakan isi kepala saya. Isi kepala yang saya maksud bukanlah otak, melainkan pikiran. Ketika saya mengakses berita dari TV dan internet, yang menjadi trending topic adalah pembunuhan dan kehilangan. Pembunuhan yang dimaksud disini adalah pembunuhan Ade Sara oleh sepasang kekasih, dan kehilangan yang dimaksud disini adalah Malaysia Airlines yang kehilangan salah satu pesawatnya. Dua berita tersebut memang masih hangat dalam seminggu terakhir, tidak hanya hangat, tetapi juga menghebohkan.

Pertama, adanya pembunuhan yang melibatkan sepasang kekasih yang belum menginjak umur dua puluh tahun. Dari berita yang beredar, perbuatan mereka telah terencana. Bahkan mereka memiliki alibi setelah pembunuhan itu, dengan cara berkicau ucapan duka dan melayat korban. Namun alibi tersebut tidak membuat pihak kepolisian terkecoh. Maklum, mereka masih remaja, masih belum mampu menciptakan alibi yang ampuh. Seandainya mereka mau belajar membuat alibi dari komik detektif Conan atau novel Sherlock Holmes, mungkin polisi akan dibuat kebingungan.

Kedua, salah satu pesawat dari maskapai Malaysia Airlines, MH 370, jenis Boeing 777-200, menghilang saat terbang dari Kuala Lumpur ke Beijing. Dan berita selengkapnya bisa dilihat di koran-koran terdekat. Saya tidak ingin berspekulasi atas hilangnya pesawat MH 370. Saya juga belum tentu bisa menganalisis apakah pesawat tersebut benar-benar jatuh, karena banyak faktor yang mempengaruhi, seperti sistem navigasi, mesin, struktur badan pesawat, dan lain-lain.

Masalah dan solusi berbanding lurus
Dari dua peristiwa di atas, kita akan tahu bahwa kita akan selalu mendapat masalah sepanjang hidup kita. Dan dari masalah, kita akan berusaha mencari solusinya. Jika perhitungan saya benar, maka banyaknya masalah akan berbanding lurus dengan banyaknya solusi. Terima kasih.