Pages

Sunday, October 5, 2014

Wake Me Up When September Ends

I'm back! Setelah hampir tiga bulan puasa menulis blog, akhirnya batang hidungku muncul kembali lewat tulisan ini. Tiga bulan bukan waktu yang sebentar. Banyak hal yang mungkin kita alami, dari awal Juli hingga akhir September. Kali ini aku akan mencoba merekonstruksi kejadian yang menimpaku, meski jadinya adalah potongan-potongan beberapa paragraf.

Bulan Juli, tepatnya Ramadhan 1435 H, aku menjadi panitia (bahasa kerennya OC, Organizing Committee) dalam kegiatan Ramadhan di Kampus (RDK). Apa enaknya menjadi panitia RDK? Yang aku rasakan ketika menjadi panitia RDK adalah isi dompet yang terjaga, maksudnya aku bisa sahur dan buka gratis. Selain makanan gratis, ada pula minyak wangi gratis. Aku tidak punya wangi-wangian dan tidak bisa tampil wangi setiap saat. Dengan adanya minyak wangi gratis, aku bisa wangi, minimal sebelum berangkat sholat, hehehe... Selebihnya, aku bisa mendapat ilmu, pengalaman, dan kawan baru.

Akhir Juli sampai awal Agustus, aku sekeluarga mudik ke Nganjuk dan Pati. Aku menikmati malam takbiran di Nganjuk dengan suguhan berupa pawai kesenian. Lalu aku mendengar kabar dari Pati, malam takbiran disana malah menjadi malam hujan-hujanan.

Pertengahan Agustus, aku berada di Kediri. Kalau sudah berada di Kediri, aku menjadi nomaden, antara rumah dan kios, kadang jaga rumah kadang jaga kios. Di kios ibuku menjual makanan beku, kebutuhan harian, dan beberapa obat. Karena jarang pulang ke Kediri, aku agak lupa dengan harga barang dagangannya. Makanya jangan heran kalau aku yang jaga, harganya bisa sedikit turun, hehehe...

Akhir Agustus, aku berangkat ke Camplong, Sampang. Aku mengikuti Muqim 1 bersama teman-teman dari ITS di Ma'had Al-Ittihad Al-Islam (MII). Muqim 1 benar-benar menyenangkan dan mengesankan. Terutama ketika kita main ke Pantai Camplong, seru sekali! Tetapi ada satu hal yang kurang begitu seru, yaitu membuat bendera JMMI sebagai KPP-nya. Dan sampai sekarang benderanya masih belum selesai.

Awal September, aku pindah kost. Yang aku suka dari kost yang baru adalah... GRATIS! Hehehe... Meski hanya berdurasi satu tahun, aku sangat bersyukur bisa berada di tempat ini. Meski harus beradaptasi lagi, aku sudah cukup mengenal teman-teman yang se-kost disini. Jarak ke kampus juga lebih singkat.

Tak terasa sekarang aku sudah menempuh empat minggu perkuliahan di semester tiga. Di luar kamarku, teman-teman sedang ribut masak daging qurban. Sedangkan aku masih menulis blog, mendengarkan Wake Me Up When September Ends dari Green Day, dan menunggu daging yang matang. Nyamnyamnyam...

Tuesday, June 24, 2014

Sajadah Granit untuk Masjid Manarul Ilmi ITS

"Insya Allah, tempat sujud yang nyaman adalah dambaan kita semua." Itulah sepenggal kalimat yang tercantum dalam brosur Program Jariyah Sajadah Granit. Apa maksud program tersebut? Program Jariyah Sajadah Granit berupaya menggalang dana untuk renovasi lantai Masjid Manarul Ilmi ITS.

Renovasi lantai Masjid Manarul Ilmi bukan tanpa alasan. Perlu kita ketahui, lantai ruang utama Masjid Manarul Ilmi mengalami retak dan deformasi selama bertahun-tahun. Serambi-serambi juga mengalami hal yang serupa. Kemungkinan renovasi dilakukan secara bertahap, dengan mendahulukan bagian ruang utama.

Sebenarnya, program ini sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu. Namun karena dana yang dibutuhkan belum tercapai, renovasi masih belum dilakukan hingga bulan ini. Saya berharap program ini bisa berjalan dengan sukses, dan Masjid Manarul Ilmi menjadi lebih cantik. Untuk informasi yang lebih lengkap, datang saja ke Masjid Manarul Ilmi.

Ini foto dari brosur Program Jariyah Sajadah Granit

Monday, June 23, 2014

Pengalaman Menjadi Guru Les Privat

Saya masih ingat. Ketika saya masih SMA, ibu saya pernah bilang, "Pas kuliah nanti, jangan cuman kuliah, tapi juga belajar cari uang, misalnya jadi guru les." Dan ternyata kata-kata itu menjadi kenyataan! Saya menjadi guru les privat saat kuliah masih berjalan di pertengahan semester 1.

Saya tidak ikut LBB manapun. Dan saya mengajar satu anak saja. Dia, yang saya ajar (bukan hajar), kelas 1 SD. Jadi, saya tidak menemui kesulitan masalah materi pelajaran. Yang menjadi masalah utama adalah mood belajar dia yang berubah-ubah. Kadang saya dituntut untuk keras, kadang juga kalem. Saya harus mengikuti jalan pikiran seorang anak kecil, dan saya memakluminya.

Saya belajar banyak hal selama delapan bulan menjadi guru les privat. Saya belajar untuk berlaku sabar, tidak menyerah, selalu ceria, dan lain-lain. Kadang saat dia tidak mau les, saya mengalah. Tapi saya bercerita dan memberinya motivasi agar ada semangat untuk belajar. Saya menjadi sadar bahwa anak kecil tetaplah anak kecil, tidak mau dipaksa.

Terakhir, saya sering ditanya orang-orang, "Kenapa anak kelas 1 SD sudah les?" Itu terserah orangtuanya. Yang perlu kita tahu, pelajaran kelas 1 SD tahun 2001 (zaman saya) dengan sekarang sudah berbeda. Sekarang, kelas 1 SD sudah diajarkan bahasa Inggris, IPA, IPS, dan TIK. Masalah les atau tidak, itu keputusan orangtua dan si anak.

Tuesday, June 10, 2014

EAS Take Home? Nikmat Mana yang Kalian Dustakan!

Minggu ini adalah minggu dimana saya dan teman-teman berjuang ekstra keras. Berjuang dalam rangka apa? Perang? Tawuran? Bukan. Kita berjuang dalam menghadapi EAS (Evaluasi Akhir Semester). Selain itu, karena kita sudah kuliah 2 semester, kita wajib lulus minimal 18 sks dari 2 semester terakhir. Jika tidak, bisa terancam DO!

Mata kuliah pertama yang saya hadapi di EAS semester ini adalah Kalkulus 2. Gampang kah? Tidak! Dari 5 soal, saya hanya mengerjakan dua nomor. Yang lain cuma saya coret-coret semampunya. Dari kejadian mengerikan itu, dapat saya simpulkan bahwa belajar sebelum EAS itu penting.

Jadi, EAS adalah "hantu" bagi para mahasiswa? Tidak juga. Tidak selamanya EAS itu menakutkan, mungkin hanya membuat jantung berhenti karena soal tidak sama dengan yang dipelajari, haha... Ada dosen yang memberi soal EAS tapi open book (boleh buka buku). Enak kan? Pengecualian untuk Kalkulus 2 karena tidak boleh buka buku.

Selain EAS open book, ada lagi yang namanya EAS take home. EAS take home, artinya kita bisa mengerjakan EAS dimanapun, tidak harus di kelas. Kurang enak apa coba? Tambahkan sedikit garam kalau kurang enak. Menurut saya, EAS take home lah yang paling enak dari berbagai varietas EAS. Nikmat mana lagi yang kalian dustakan!

Sesungguhnya, ujian dibuat untuk meningkatkan kualitas kita. Jadi, jangan menyerah dan terus semangat dalam menjalani hidup.

Ini contoh EAS take home dari matkul TBB

Thursday, May 1, 2014

Gerpolek: Gerilya, Politik, Ekonomi

Judul buku: Gerpolek
Penulis: Tan Malaka
Penerbit: Diandra Pustaka Indonesia
Terbit: Mei 2012, cetakan pertama


Dari ratusan juta penduduk Indonesia, mungkin tidak banyak yang mengetahui siapa itu Tan Malaka. Maklum, cerita kepahlawanan beliau di dalam pelajaran sejarah sempat dihapus saat zaman Orde Baru. Tan Malaka merupakan pahlawan yang berjuang demi "kemerdekaan 100%" bangsa Indonesia. Karena perjuangannya, beliau pernah mendekam dalam penjara di Madiun (1948). Namun dari dalam penjara itulah, beliau banyak menelurkan pemikiran ke dalam bentuk tulisan. Salah satu karyanya adalah buku ini, Gerpolek.

Gerpolek merupakan akronim dari Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Tan Malaka menulis dalam buku ini bahwa kegunaan Gerpolek adalah sebagai senjata Sang Gerilya untuk membela Proklamasi 17 Agustus dan mewujudkan kemerdekaan 100%. Buku Gerpolek berisi tulisan mengenai jenis-jenis perang, unsur-unsur perang, siasat perang, dan sejenisnya. Ada pula tulisan Tan Malaka tentang perang politik dan perang ekonomi. Tan Malaka juga menulis dalam buku Gerpolek mengenai kondisi Indonesia di musim "jaya berjuang" dan musim "runtuh berunding".

Dari segi bahasa, buku Gerpolek mudah dipahami karena telah disunting sesuai EYD. Namun pembaca akan menemui beberapa kata yang sengaja tidak diubah supaya gaya kepenulisan Tan Malaka tidak berubah. Dan secara keseluruhan, buku ini sudah sangat baik.

Buku ini layak dibaca oleh semua orang. Buku ini bisa menjadi referensi, inspirasi, dan motivasi dalam memperjuangkan kemerdekaan 100% bangsa Indonesia. Semoga dengan adanya buku ini, kepahlawanan Tan Malaka selalu diingat, dan pemikiran-pemikirannya selalu hidup.