Pages

Thursday, October 22, 2015

Malam Mingguan di Pasar Ikan Hias Surabaya

Biasanya, malam minggu aku habiskan untuk game atau novel. Tapi kali ini, aku habiskan malam minggu untuk pergi. Cieee... Pergi sama siapa? Kemana? Posesif atau kepo nih?

Yup, aku pergi dengan Ivan, temanku sekontrakan. Bukan, dia bukan mantan pelatih timnas Indonesia, Ivan Venkov Kolev. Aku dan Ivan hendak pergi ke Pasar Ikan Hias, di daerah Gunung Sari. Kalau lihat Google Map, jaraknya kurang lebih sebelas kilometer dari rumah. Kita pergi kesana dengan satu motor, sehingga terpaksa kita boncengan.

Sehubungan dengan bertepatan waktu malam minggu, jalanan di Surabaya cukup ramai. Kita sampai di pasar ikan setelah tiga puluh menit perjalanan. Dan aku baru tau, pas malam minggu nggak hanya mall yang ramai, tapi juga pasar. Kenapa kita ke pasar ikan? Di belakang rumah ada kolam ikan, dan isinya hanya satu ikan koi, satu ikan mas, dan dua ikan hitam yang aku nggak tau namanya. Kita pingin beli ikan supaya ikan-ikan itu nggak sendirian, terutama pas malam minggu.

Kita keliling dulu di antero pasar, lihat-lihat ikan yang tembem. Ketika kita sampai di area belakang pasar, kita ketemu kios yang beda dengan kios lain. Kios itu nggak jual ikan atau aksesorisnya, tapi jual kucing, ras anggora pula! Saking lucunya kucing itu, kita hampir lupa dengan tujuan utama kita. Lalu ada juga kios yang jual iguana. Ikan yang ada di pasar ini nggak hanya ikan hias, tapi juga ikan yang biasa dijual di warung penyetan (lele, mujair, dkk).

Setelah melalui pertimbangan yang matang, kita memutuskan untuk membeli ikan gurame (10 ekor), nila (10 ekor), dan sapu-sapu (5 ekor). Ikan gurame kita tebus sebesar 6000 rupiah, sedangkan ikan nila lebih murah, 2000 rupiah. Aku lupa harga ikan sapu-sapu. Kenapa kita nggak beli ikan hias? Kita mencoba investasi untuk masa depan. Kita beli gurame dan nila supaya kelak bisa kita makan. Kalau kita beli arwana, kelak ketika dia dewasa, dia bisa menjadi presenter dan komedian kondang, tapi nggak bisa kita makan.

Salah satu lapak penjual ikan hias di halaman pasar

Lapak di sisi lain juga sama, sama-sama jual ikan

Thursday, October 1, 2015

Istirahatlah dengan Tenang, Kawanku

Sebuah berita datang dengan cepat. Sebuah berita yang mungkin tidak diinginkan oleh setiap orang. Sebuah berita yang awalnya tidak dipercaya, namun akhirnya semua percaya bahwa hal itu bisa terjadi kepada siapapun, termasuk kawanku, Albert. Aku kehilangan seorang kawan yang berbakat, penuh passion di bidang musik. Aku teringat kembali dengan canda dan tawamu yang khas, yang tak bisa aku jumpai lagi. Istirahatlah dengan tenang, Kawanku.

Monday, August 31, 2015

Ayah

Judul: Ayah
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Terbit: Mei 2015, cetakan pertama



Ayah, satu kata yang singkat, penuh makna, sekaligus menjadi judul dari novel teranyar dari Andrea Hirata. Novelis yang terkenal lewat tetralogi Laskar Pelangi ini memberi sudut pandang yang berbeda dalam buku ini. Kalau di novel-novel sebelumnya Andrea Hirata menceritakan dirinya sendiri sebagai Ikal, maka di novel ini Andrea Hirata menceritakan kisah dari orang lain.

Sabari, tokoh sentral dalam buku ini, adalah orang yang penyabar, pandai membuat puisi, serta sangat mencintai Lena, istrinya. Sedangkan Lena justru sangat membenci Sabari. Mereka dikaruniai seorang anak bernama Zorro alias Amiru. Suatu ketika, Sabari dan Lena berpisah. Lena pergi bersama Zorro.

Selama delapan tahun sejak berpisah dari Lena dan Zorro, Sabari selalu sedih dan hampir menjadi gila. Ukun dan Tamat, sahabat Sabari, berinisiatif mencari Lena dan Zorro yang sudah melanglang buana hampir di antero Sumatra. Hingga akhirnya, Ukun dan Tamat berhasil mempertemukan Zorro dengan Sabari.

Buku ini memberikan pelajaran bahwa kasih sayang ayah kepada anaknya sangatlah besar. Namun bentuk kasih sayang itu bisa bermacam-macam, dan membentuk persepsi yang berbeda terhadap anak. Selain itu, masih banyak hikmah atau pelajaran yang bisa dipetik dari novel ini.

Thursday, August 27, 2015

Dari Pantai Kartini hingga Pulau Panjang

Pantai Kartini terletak di Jepara, Jawa Tengah. Nama pantai ini diambil dari nama pejuang emansipasi wanita, RA Kartini. Di tepi pantai juga terdapat deretan huruf 3D yang cukup besar, dan membentuk kata "PANTAI KARTINI", seolah-olah menegaskan kembali nama pantai ini.

Di tepi pantai banyak orang berjualan. Ada penjual makanan, dan ada pula penjual minuman. Ada orang menjual kaos yang bertuliskan "I love Jepara" dengan ukuran anak-anak maupun dewasa. Ada orang menjual ikan-ikan yang telah diawetkan. Wisatawan yang berada di kawasan ini juga tak kalah banyak. Ada wisatawan domestik, dan ada pula wisatawan mancanegara.

Di kawasan Pantai Kartini terdapat bangunan besar menyerupai penyu, dengan kepala yang mendongak ke atas. Pintu masuk bangunan ini menembus leher "penyu". Bila dilihat dari jauh, orang-orang seperti masuk ke dalam rongga pencernaan "penyu". Karena unik, bangunan ini sering dijadikan objek foto oleh wisatawan.

Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Pulau Panjang. Transportasi yang mengantar wisatawan dari Pantai Kartini hingga Pulau Panjang adalah perahu diesel. Per orang dikenai biaya 15 ribu rupiah untuk PP Pantai Kartini-Pulau Panjang. Perjalanan Pantai Kartini-Pulau Panjang dapat ditempuh sekitar 15 sampai 20 menit.

Pulau Panjang memiliki pasir pantai berwarna putih. Air lautnya terlihat bersih dan jernih. Ombaknya tidak besar sehingga anak-anak aman bila bermain di pantai. Kawasan Pulau Panjang bisa dibilang sejuk, teduh, banyak pohon perindang. Tak sia-sia rasanya bila wisatawan datang kemari.

Penampakan kepala "penyu"

Persiapan sebelum berangkat ke Pulau Panjang

Aku dan saudaraku di pesisir Pulau Panjang

Saturday, June 27, 2015

Mie Setan SADIS

Mungkin mayoritas dari kalian sudah tidak asing lagi dengan "mie setan". Atau mungkin di tempat lain namanya bukan mie setan, tapi "mie iblis". Mie setan atau mie iblis sama saja, sama-sama tidak banyak gizinya. Namun yang membedakan antara mie setan dengan mie yang lain adalah bumbunya. Ada apa dengan bumbunya? Inilah yang membuatku penasaran.

Setelah sholat Tarawih, aku bersama ayah dan adikku pergi ke sebuah kedai mie setan. Kedai tersebut berada di Jalan Erlangga 4 Kediri. Di depan kedai terpampang tulisan yang cukup besar dan jelas: "Mie Setan SADIS". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sadis artinya tidak mengenal belas kasih.

Di meja kasir, aku memesan dua porsi mie setan level 1, satu porsi mie setan level 2, es zombie, dan es sotan. Satu porsi mie setan dihargai 10 ribu rupiah, dan minumannya dihargai 7 ribu rupiah. Di daftar menu dijelaskan bahwa tingkat kepedasan mie setan level 1 setara dengan 12 cabe, level 2 setara 24 cabe, dan seterusnya hingga level 5 = 60 cabe.

Setelah menunggu beberapa saat, makanan dan minuman yang dipesan telah tiba. Mie setan tampak seperti mie spaghetti, namun dilengkapi dengan siomay ayam, daging burger sapi, pangsit, sawi, dan bawang goreng. Dan yang menjadi ciri khas mie setan adalah bumbunya yang berupa cabe yang sudah dihaluskan. Potongan kecil-kecil cabe mewarnai setiap sudut mie. Rasanya? Pedas. Bibir, lidah, hingga kerongkongan terasa perih dan panas. Sungguh layak mie setan ini diberi nama "Sadis", benar-benar tak ada belas kasihan.

Penampakan mie setan level 1 yang sudah dilahap setengah

Bagaimana dengan minumannya? Aku hanya mencicipi es sotan. Bahan utama es sotan adalah susu kental manis dan Fanta stroberi. Ketika dihidangkan, susunya masih mengendap di dasar gelas. Setelah diaduk, Fanta yang tadinya merah berubah menjadi pink. Rasanya manis dan menyegarkan.