Pages

Tuesday, January 12, 2016

Nasihat untuk Mahasiswa

Mungkin sekitar dua bulan lalu, aku diajak oleh teman-teman dari BPU untuk berkunjung ke salah satu rumah warga Medokan Semampir, Surabaya. For your information, BPU adalah singkatan dari Badan Pelayanan Umat. Setelah sampai di tempat, aku baru tahu kalau ternyata yang kita kunjungi adalah karyawan di ITS, tepatnya di bagian kemahasiswaan. Buat teman-teman yang sering ke kantor kemahasiswaan, entah mengurus beasiswa atau minta tanda tangan Wakil Rektor untuk proposal kegiatan, pasti kenal atau setidaknya tahu beliau. Namanya Pak Supojo, dan biasa dipanggil Pak Pojo (baca: poyo).

Beliau mempersilakan kami untuk duduk. Tak lama kemudian kami disuguhi dengan gorengan dan teh hangat. Lantas salah satu dari kami membuka obrolan. Karena saat itu dekat dengan Hari Pahlawan, maka obrolan kami tidak jauh dari kata "pemuda". Kami bertanya banyak hal, mulai dari perbedaan pemuda zaman dulu dengan pemuda sekarang, sampai peran pemuda dalam memajukan masyarakat. Beliau menjawab pertanyaan kami dengan sabar, sambil sesekali meminta kami untuk menikmati suguhannya.

Menurut beliau, apa yang dihadapi pemuda tahun 1945 berbeda dengan tahun 2015. Pemuda zaman sekarang tidak lagi menghadapi serdadu Inggris atau Belanda, melainkan kemiskinan dan kebodohan. Pemuda, terutama mahasiswa, memiliki andil dalam mengentaskan kemiskinan dan kebodohan di masyarakat. Mahasiswa dikaruniai otak yang cerdas. Dengan itu, mahasiswa mampu mencari solusi dari masalah yang ada di masyarakat. Atau mungkin mahasiswa bisa memberi les gratis kepada adik-adik SD, SMP, atau SMA. Terbukti dari les yang difasilitasi oleh teman-teman mahasiswa, ada beberapa putra-putri warga Medokan yang bisa melanjutkan studinya hingga perguruan tinggi.

Selain itu, mahasiswa bisa membuat suatu sistem atau teknologi yang mampu mengangkat derajat hidup masyarakat. Bila teknologi itu membutuhkan biaya, teman-teman mahasiswa dipersilakan untuk membuat proposal. Menurut Pak Pojo, ide-ide dari mahasiswa untuk masyarakat memang luar biasa. Namun alasan yang biasa diungkapkan oleh mahasiswa adalah terkendala biaya. Padahal apabila teman-teman mahasiswa mau sedikit berusaha, membuat proposal untuk permohonan dana, maka biaya bukan lagi halangan.

Sebelum kami pulang, Pak Pojo menyampaikan satu kalimat terakhir: "Ingat kembali tri dharma perguruan tinggi, terutama poin ketiga, yaitu pengabdian kepada masyarakat."

Sunday, October 25, 2015

Issue: AutoCAD dan AMD Catalyst Control Center

Ketika membuka AutoCAD, muncul jendela "AutoCAD Error Aborting", dengan isi FATAL ERROR: Unhandled Access Violation... Penyebabnya bisa bermacam-macam. Namun yang akan dijelaskan disini hanya penyebab AutoCAD error akibat display driver AMD yang tidak sesuai.

Dalam kasus ini, laptop yang digunakan adalah Lenovo G40-45 dengan prosesor AMD A8-6410, grafis AMD Radeon R4 dan R5 M230, sistem operasi Windows 8.1 Pro 64-bit, AutoCAD 2014 SP1, dan driver AMD bawaan Lenovo (AMD Catalyst 13.302.1301). Dengan driver bawaan Lenovo, AutoCAD 2014 bisa berjalan dengan lancar. Namun bila driver diperbarui menjadi AMD Catalyst 15.7.1 (bisa dilihat di http://j.mp/1PJ5jiA) maka AutoCAD akan memunculkan pesan error. Kemungkinannya adalah AMD Catalyst 15.7.1 masih belum kompatibel dengan AutoCAD 2014.

Jika memang AutoCAD error akibat driver yang tidak kompatibel, driver tersebut di-uninstall hingga tuntas kemudian install dengan driver sebelumnya yang masih kompatibel dengan AutoCAD. Semoga bermanfaat.

AMD Catalyst Control Center yang masih kompatibel dengan AutoCAD


AutoCAD 2014 SP1

Thursday, October 22, 2015

Malam Mingguan di Pasar Ikan Hias Surabaya

Biasanya, malam minggu aku habiskan untuk game atau novel. Tapi kali ini, aku habiskan malam minggu untuk pergi. Cieee... Pergi sama siapa? Kemana? Posesif atau kepo nih?

Yup, aku pergi dengan Ivan, temanku sekontrakan. Bukan, dia bukan mantan pelatih timnas Indonesia, Ivan Venkov Kolev. Aku dan Ivan hendak pergi ke Pasar Ikan Hias, di daerah Gunung Sari. Kalau lihat Google Map, jaraknya kurang lebih sebelas kilometer dari rumah. Kita pergi kesana dengan satu motor, sehingga terpaksa kita boncengan.

Sehubungan dengan bertepatan waktu malam minggu, jalanan di Surabaya cukup ramai. Kita sampai di pasar ikan setelah tiga puluh menit perjalanan. Dan aku baru tau, pas malam minggu nggak hanya mall yang ramai, tapi juga pasar. Kenapa kita ke pasar ikan? Di belakang rumah ada kolam ikan, dan isinya hanya satu ikan koi, satu ikan mas, dan dua ikan hitam yang aku nggak tau namanya. Kita pingin beli ikan supaya ikan-ikan itu nggak sendirian, terutama pas malam minggu.

Kita keliling dulu di antero pasar, lihat-lihat ikan yang tembem. Ketika kita sampai di area belakang pasar, kita ketemu kios yang beda dengan kios lain. Kios itu nggak jual ikan atau aksesorisnya, tapi jual kucing, ras anggora pula! Saking lucunya kucing itu, kita hampir lupa dengan tujuan utama kita. Lalu ada juga kios yang jual iguana. Ikan yang ada di pasar ini nggak hanya ikan hias, tapi juga ikan yang biasa dijual di warung penyetan (lele, mujair, dkk).

Setelah melalui pertimbangan yang matang, kita memutuskan untuk membeli ikan gurame (10 ekor), nila (10 ekor), dan sapu-sapu (5 ekor). Ikan gurame kita tebus sebesar 6000 rupiah, sedangkan ikan nila lebih murah, 2000 rupiah. Aku lupa harga ikan sapu-sapu. Kenapa kita nggak beli ikan hias? Kita mencoba investasi untuk masa depan. Kita beli gurame dan nila supaya kelak bisa kita makan. Kalau kita beli arwana, kelak ketika dia dewasa, dia bisa menjadi presenter dan komedian kondang, tapi nggak bisa kita makan.

Salah satu lapak penjual ikan hias di halaman pasar

Lapak di sisi lain juga sama, sama-sama jual ikan

Thursday, October 1, 2015

Istirahatlah dengan Tenang, Kawanku

Sebuah berita datang dengan cepat. Sebuah berita yang mungkin tidak diinginkan oleh setiap orang. Sebuah berita yang awalnya tidak dipercaya, namun akhirnya semua percaya bahwa hal itu bisa terjadi kepada siapapun, termasuk kawanku, Albert. Aku kehilangan seorang kawan yang berbakat, penuh passion di bidang musik. Aku teringat kembali dengan canda dan tawamu yang khas, yang tak bisa aku jumpai lagi. Istirahatlah dengan tenang, Kawanku.

Monday, August 31, 2015

Ayah

Judul: Ayah
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Terbit: Mei 2015, cetakan pertama



Ayah, satu kata yang singkat, penuh makna, sekaligus menjadi judul dari novel teranyar dari Andrea Hirata. Novelis yang terkenal lewat tetralogi Laskar Pelangi ini memberi sudut pandang yang berbeda dalam buku ini. Kalau di novel-novel sebelumnya Andrea Hirata menceritakan dirinya sendiri sebagai Ikal, maka di novel ini Andrea Hirata menceritakan kisah dari orang lain.

Sabari, tokoh sentral dalam buku ini, adalah orang yang penyabar, pandai membuat puisi, serta sangat mencintai Lena, istrinya. Sedangkan Lena justru sangat membenci Sabari. Mereka dikaruniai seorang anak bernama Zorro alias Amiru. Suatu ketika, Sabari dan Lena berpisah. Lena pergi bersama Zorro.

Selama delapan tahun sejak berpisah dari Lena dan Zorro, Sabari selalu sedih dan hampir menjadi gila. Ukun dan Tamat, sahabat Sabari, berinisiatif mencari Lena dan Zorro yang sudah melanglang buana hampir di antero Sumatra. Hingga akhirnya, Ukun dan Tamat berhasil mempertemukan Zorro dengan Sabari.

Buku ini memberikan pelajaran bahwa kasih sayang ayah kepada anaknya sangatlah besar. Namun bentuk kasih sayang itu bisa bermacam-macam, dan membentuk persepsi yang berbeda terhadap anak. Selain itu, masih banyak hikmah atau pelajaran yang bisa dipetik dari novel ini.